Solusio Plasenta dan contoh askeb
DASAR TEORI
SOLUSIO
PLASENTA
Solusio
plasenta adalah lepasnya plasenta dari tempat melekatnya yang normal pada
uterus sebelum janin dilahirkan. (Winkjosastro,2002)
Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta
yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya
dihitung sejak kehamilan 28 minggu. (Mochtar,1998)
Menurut Manuaba,1998. Batasan solusio plasenta
adalah terlepasnya plasenta sebelum waktunya dengan implantasi normal pada
kehamilan trimester III.
Angka kejadian 1 : 80 persalinan ; Solusio plasenta berat angka kejadian = 1 : 500 – 750 persalinan

Terdapat 2 jenis perdarahan yang terjadi :
- Jenis perdarahan tersembunyi (concealed) : 20%
- Jenis perdarahan keluar (revealed) : 80%
Pada jenis tersembunyi, perdarahan terperangkap dalam
cavum uteri [hematoma retroplasenta] dan seluruh bagian plasenta dapat
terlepas, komplikasi yang diakibatkan biasanya sangat berat dan 10% disertai
dengan Disseminated Intravascular Coagulation.
Pada jenis terbuka, darah keluar dari ostium uteri, umumnya
hanya sebagian dari plasenta yang terlepas dan komplikasi yang diakibatkan
umumnya tidak berat.
Kadang-kadang, plasenta tidak lepas semua namun darah
yang keluar terperangkap dibalik selaput ketuban (relativelly concealed) 30%
perdarahan antepartum disebabkan oleh solusio plasenta.
ETIOLOGI
Penyebab utama tidak jelas.
Terdapat beberapa faktor resiko antara lain
- Peningkatan usia dan paritas
- Preeklampsia
- Hipertensi kronis
- KPD preterm
- Kehamilan kembar
- Hidramnion
- Merokok
- Pencandu alkohol
- Trombofilia
- Pengguna cocain
- Riwayat solusio plasenta
- Mioma uteri
Faktor pencetus :
- Versi luar atau versi dalam
- Kecelakaan
- Trauma abdomen
- Amniotomi ( dekompresi mendadak )
- Lilitan talipusat - Tali pusat pendek
PATOFISIOLOGI
Solusio plasenta diawali dengan terjadinya perdarahan kedalam desidua basalis. Desidua terkelupas dan tersisa sebuah lapisan tipis yang melekat pada miometrium.
Hematoma pada desidua akan menyebabkan separasi dan plasenta tertekan oleh hematoma desidua yang terjadi.
Solusio plasenta diawali dengan terjadinya perdarahan kedalam desidua basalis. Desidua terkelupas dan tersisa sebuah lapisan tipis yang melekat pada miometrium.
Hematoma pada desidua akan menyebabkan separasi dan plasenta tertekan oleh hematoma desidua yang terjadi.
Pada awalnya kejadian ini tak memberikan gejala
apapun. Namun beberapa saat kemudian, arteri spiralis desidua pecah sehingga
menyebabkan terjadinya hematoma retroplasenta yang menjadi semakin bertambah
luas. Daerah plasenta yang terkelupas menjadi semakin luas sampai mendekati
tepi plasenta.
Oleh karena didalam uterus masih terdapat produk
konsepsi maka uterus tak mampu berkontraksi untuk menekan pembuluh yang pecah
tersebut. Darah dapat merembes ke pinggiran membran dan keluar dari uterus maka
terjadilah perdarahan yang keluar ( revealed hemorrhage)
Perdarahan tersembunyi ( concealed
hemorrhage)
- Terjadi efusi darah dibelakang plasenta dengan tepi yang masih utuh
- Plasenta dapat terlepas secara keseluruhan sementara selaput ketuban masih menempel dengan baik pada dinding uterus
- Darah dapat mencapai cavum uteri bila terdapat robekan selaput ketuban
- Kepala janin umumnya sangat menekan SBR sehingga darah sulit keluar
- Bekuan darah dapat masuk kedalam miometrium sehingga menyebabkan uterus couvellair
GAMBARAN KLINIK
A. GEJALA dan
TANDA
Gejala klinik tergantung pada luas
plasenta yang terlepas dan jenis pelepasan plasenta (concealed atau revealed) 30%
kasus, daerah yang terlepas tidak terlalu besar dan tidak memberikasn gejala
dan diagnosa ditegakkan secara retrospektif setelah anak lahir dengan
terlihatnya hematoma retroplasenta
Bila lepasnya plasenta mengenai
daerah luas, terjadi nyeri abdomen dan uterus yang tegang disertai dengan :
- Gawat janin (50% penderita)
- Janin mati ( 15%)
- Tetania uteri
- DIC- Disseminated Intravascular Coagulation
- Renjatan hipovolemik
- Perdarahan pervaginam ( 80% penderita)
- Uterus yang tegang (2/3 penderita)
- Kontraksi uterus abnormal (1/3 penderita
Bila
separasi plasenta terjadi dibagian tepi, iritabilitas uterus minimal, dan tidak
terdapat tanda-tanda uterus tegang atau gawat janin. Perdarahan yang terjadi
biasanya tidak terlampau banyak ( 50 – 150 cc) dan berwarna kehitaman.
B. LABORATORIUM
Kadar haemoglobin [Hb] atau hematokrit
[Ht] sangat bervariasi. Penurunan Hb dan Ht umumnya terjadi setelah terjadi
hemodilusi.
Hapusan darah tepi menunjukkan
penurunan trombosit, adanya schistosit menunjukkan sudah terjadinya proses
koagulasi intravaskular. Penurunan kadar fibrinogen dan pelepasan hasil
degradasi fibrinogen. Bila pengukuran fibrinogen tak dapat segera dilakukan,
lakukan pemeriksaan “clott observation test”. Sample darah vena
ditempatkan dalam tabung dan dilihat proses pembentukan bekuan (clot) dan lisis
bekuan yang terjadi. Bila pembentukan clot berlangsung > 5 – 10 menit atau
bekuan darah segera mencair saat tabung dikocok maka hal tersebut menunjukkan
adanya penurunan kadar fibrinogen dan trombosit.
Pemeriksaan laboratorium khusus :
- Prothrombine time
- Partial thromboplastine time
- Jumlah trombosit
- Kadar fibrinogen
- Kadar fibrinogen degradation product
Pemeriksaan ultrasonografi tak memberikan banyak
manfaat oleh karena pada sebagian besar kasus tak mampu memperlihatkan adanya
hematoma retroplasenta
PENATALAKSANAAN
A. Tindakan gawat darurat
A. Tindakan gawat darurat
Bila keadaan
umum pasien menurun secara progresif atau separasi plasenta bertambah luas yang
manifestasinya adalah :
- Perdarahan bertambah banyak
- Uterus tegang dan atau fundus uteri semakin meninggi
- Gawat janin
maka hal
tersebut menunjukkan keadaan gawat-darurat dan tindakan yang harus segera
diambil adalah memasang infus dan mempersiapkan tranfusi.
B. TERAPI
EKSPEKTATIF
Pada umumnya bila berdasarkan gejala
klinis sudah diduga adanya solusio plasenta maka tidak pada tempatnya untuk
melakukan satu tindakan ekspektatif.
C. PERSALINAN PERVAGINAM
Indikasi persalinan pervaginam
adalah bila derajat separasi tidak terlampau luas dan atau kondisi ibu dan atau
anak baik dan atau persalinan akan segera berakhir.
Setelah diagnosa solusio plasenta ditegakkan maka segera lakukan amniotomi dengan tujuan untuk :
Setelah diagnosa solusio plasenta ditegakkan maka segera lakukan amniotomi dengan tujuan untuk :
- Segera menurunkan tekanan intrauterin untuk menghentikan perdarahan dan mencegah komplikasi lebih lanjut (masuknya thromboplastin kedalam sirkukasi ibu yang menyebabkan DIC)
- Merangsang persalinan ( pada janin imature, tindakan ini tak terbukti dapat merangsang persalinan oleh karena amnion yang utuh lebih efektif dalam membuka servik)
Induksi persalinan dengan infuse oksitosin dilakukan
bila amniotomi tidak segera diikuti dengan tanda-tanda persalinan.
D. SEKSIO SESAR
Indikasi seksio sesar dapat dilihat dari sisi ibu dan
atau anak
Tindakan seksio sesar dipilih bila persalinan diperkirakan tak akan
berakhir dalam waktu singkat, misalnya kejadian solusio plasenta ditegakkan
pada nulipara dengan dilatasi 3 – 4 cm. Atas
indikasi ibu maka janin mati bukan kontraindikasi untuk melakukan tindakan
seksio sesar pada kasus solusio plasenta.
KOMPLIKASI
1. Koagulopati konsumtif
Koagulopati
konsumtif dalam bidang obstetri terutama disebabkan oleh solusio plasenta.
Hipofibrinogenemia ( < 150 mg/dL plasma) yang disertai dengan peningkatan
kadar FDP dan penurunan berbagai faktor pembekuan darah terjadi pada 30%
penderita solusioplasenta berat yang disertai dengan kematian janin.
Mekanisme
utama dalam kejadian ini adalah terjadinya koagulasi intravaskular akibat masuknya
“tromboplastin” yang berasal dari uterus kedalam darah dan sebagian kecil
merupakan akibat dari pembekuan darah retroplasenta.
Akibat
penting dari terjadinya koagulasi intravaskular adalah aktivasi plasminogen
menjadi plasmin yang diperlukan untuk melakukan lisis mikroemboli dalam
mekanisme untuk menjaga keutuhan mikrosirkulasi.
Hipofibrinogenemia
berat tidak selalu bersamaan dengan trombositopenia, trombositopenia umumnya
baru terjadi setelah tranfusi darah yang berulang.
Hipofibrinogenemia
jarang terjadi pada keadaan dimana solusio plasenta tidak disertai dengan
kematian janin intra uterin.
2. Gagal ginjal
Gagal ginjal
akut sering terlihat pada solusio plasenta berat dan sering disebabkan oleh
penanganan renjatan hipovolemia yang terlambat atau kurang memadai. Drakeley
dkk (2002) menunjukkan bahwa penelitian terhadap 72 orang wanita dengan gagal
ginjal akut, 32 kasus disebabkan oleh solusio plasenta
Gangguan
perfusi renal yang berat disebabkan oleh perdarahan pasif. 75% kasus gagal
ginjal akut akibat nekrosis tubuler akut bersifat tidak permanen Lindheimer
dkk (2000) nekrosis kortikal akut dalam kehamilan selalu disebabkan oleh
solsuio plasenta
3. Uterus couvelaire
Ekstravasasi
darah kedalam miometrium menyebabkan apopleksia uterus yang disebut sebagai
uterus couvelair.
Ekstravasasi
dapat terlihat pada pangkal tuba, ligamentum latum atau ovarium. Jarang
menyebabkan gangguan kontraksi uterus, jadi bukan merupakan indikasi untuk
melakukan histerektomi
PROGNOSIS
Mortalitas maternal 0.5 – 5% dan sebagian besar disebabkan gagal ginjal atau gagal kardiovaskular. Pada solusio plasenta berat, mortalitas janin mencapai 50 – 80% Janin yang dilahirkan memiliki morbiditas tinggi yang disebabkan oleh hipoksia intra uterin, trauma persalinan dan akibat prematuritas.
PADA NY Y
G1P0Ab0 UMUR 21 TAHUN
UK 37+1 MINGGU
DI BPS DWI MARYATI,S.ST
NGILIPAR GUNUNG KIDUL
No. Register : 045 / BPS/ BUMIL
Masuk RS tanggal/jam : 31 Januari 2013
Dirawat diruang : -
I.
PENGKAJIAN
DATA, Tanggal/Pukul :
31 Januari 2013/pukul 15.00 Oleh : Bidan
A. Biodata Ibu
Suami
1. Nama :
Ny. Y Tn.
P
2. Umur : 21 tahun 25 tahun
3. Agama :
Islam Islam
4. Suku/Bangsa :
Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia
5. Pendidikan :
SMU SMU
6. Pekerjaan :
IRT Buruh
7. Alamat :
Kwaru RT 1/RW 3 Kwaru RT 1/RW 3
Gunung Kidul Gunung Kidul
B. DATA
SUBYEKTIF
1.
Alasan kunjungan
Ibu mengatakan ingin memeriksakan
kehamilanya
2. Keluhan
utama
Ibu
mengatakan rasa nyeri saat dipegang
pada perut bagian
atas
3. Riwayat
mensturasi
Menarce : 14 tahun Siklus : 28 hari
Lama : 7 hari Teratur : teratur
Sifat darah : cair Keluhan
: tidak ada
4. Riwayat
perkawinan
Status perkawinan : sah Menikah
ke : 1
Lama : 1 tahun Usia menikah
pertama : 20
tahun
5. Riwayat
obstetrik
|
Hamil
ke
|
Persalinan
|
Nifas
|
|||||||
|
Tgl
|
UK
|
jns
prsalinan
|
penolong
|
kompl
|
JK
|
BB
|
Laktasi
|
kompl
|
|
|
1
|
Hamil ini
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6. Riwayat
kontrasepsi yang digunakan
|
No
|
Jenis kontrasepsi
|
Pasang
|
Lepas
|
||||||
|
tanggal
|
Oleh
|
tempat
|
keluhan
|
Tanggal
|
oleh
|
tempat
|
alasan
|
||
|
1
|
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat
kontrasepsi
|
||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7. Riwayat
kehamilan sekarang
a.
HPM : 6-5-2012 HPL : 13-2-2013
b.
ANC pertama umur kehamilan : 4 minggu
c.
Kunjungan ANC
Trimester I
Frekuensi : 2x, Tempat :bidan , Oleh : bidan
Keluhan : tidak ada
Terapi : vitonal f 1x1/hari, vit C 1x1/hari
Trimester II
Frekuensi : 3x, Tempat : bidan , Oleh : bidan
Keluhan : tidak ada
Terapi : vitonal f 1x1/ hari, vit C 1x1/ hari
Trimester III
Frekuensi : 1x, Tempat : bidan,Oleh : bidan
Keluhan : rasa nyeri saat perut dipegang bagian atas
Terapi :
d.
Imunisasi TT
TT
I : 20-5-2006
TT
II: 20-6-2006 TT III :
23-9-2012
e.
Pergeraakan janin selama 24 jam
(dalam sehari )
Ibu mengatakan merasakan pergerakan
janin 2x/ jam dalam sehari
8. Riwayat
kesehatan
a.
Penyakit yang pernah/sedang
diderita (menular, menurun dan menahun)
ibu mengatakan tidak pernah / tidak sedang menderita penyakit menular (TBC,hepatitis,HIV) penyakit menurun(hipertensi, asma) dan penyakit menahun (jantung, paru-paru).
b.
Penyakit yang pernah/sedanng
diderita keluarga (menular, menurun dan menahun)
ibu mengatakakan keluarga tidak pernah / tidak sedang menderita penyakit menular(TBC,hepatitis,HIV) penyakit menurun(hipertensi, asma) dan penyakit menahun (jantung, paru-paru).
c.
Riwayat keturunan kembar
ibu mengatakan tidak ada riwayat
keturan kembar
d.
Riwayat operasi
ibu mengatakan belum pernah operasi
e.
Riwayat alergi obat
ibu mengatakan tidak ada riwayat
alergi obat
9. Pola
pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a. Pola
nutrisi sebelum hamil saat
hamil
Makan
Frekuensi : 3x/ hari 3x/
hari
Porsi : 1 piring 1
piring
Jenis : nasi, lauk, sayur nasi,sayur,
lauk
Pantangan : tidak ada tidak
ada
Keluhan : tidak ada tidak
ada
Minum
Frekuensi : 10x/ hari 12x/
hari
Porsi : 1 gelas 1
gelas
Jenis : air putih, susu, teh nasi,sayur,
lauk
Pantangan : tidak ada tidak
ada
Keluhan : tidak ada tidak
ada
b. Pola
eliminasi
BAB
Frekuensi : 1x/ hari 1x/hari
Konsistensi : lembek lembek
Warna : kuning kuning
Keluhan :
tidak ada tidak ada
BAK
Frekuensi : 5x/
hari 9x/hari
Konsistensi : cair cair
Warna : kuning jernih kuning jernih
Keluhan :
tidak ada tidak ada
c. Pola
istirahat
Tidur siang
Lama : 2 jam / hari 2
jam / hari
Keluhan : tidak ada tidak ada
Tidur malam
Lama : 8 jam / hari 8
jam / hari
Keluhan : tidak ada tidak
ada
d. Personal
hygiene
Mandi : 2x/ hari 2x/
hari
Ganti pakaian : 2x/ hari 2x/
hari
Gosok gigi : 2x/ hari 2x/
hari
Keramas : 4x/ minggu 4x/ minggu
e. Pola
sexsualitas
Frekuensi : 4x/ minggu 1x/ minggu
Keluhan : tidak ada
tidak
ada
f. Pola
aktifitas (terkait kegiatan fisik, olah raga)
ibu mengatakan selalu mengkuti
kegiatan senam hamil dan jalan jalan pagi
10. Kebiasaan
yang mengganggu kesehatan (merokok, minum jamu, minuman berakohol)
-ibu
mengatakan tidak pernah melakukan kebiasaan yang mengganggu kesehatan seperti
merokok, minum jamu, minuman berakohol
11. Pisikososiospiritual
(penerimaan ibu/suami/keluarga terhadap kehamilan, dukungan sosial, perencanaan
persalinan, pemberian ASI, perawatan bayi,
kegiataan
ibadah, kegiataan sosial, dan persiapan keuangan ibu dan keluarga)
a.
Ibu mengatakan suami dan keluarga
sangat senang dengan kehamilanya
b.
Ibu mengatakan mendapatkan dukungan
sosial dari masyarakat
c.
Ibu mengatakan sudah merencanakan
persalinan di RB
d.
Ibu mengatakan akan memberikan ASI
esklusif pada bayinya
e.
Ibu mengatakan ingin merawatbayinya
sendiri dengan keluarga
f.
Ibu
mengatakan rajin beribadah
g.
Ibu mengatakan selalu mengikuti
kegiatan sosial
h.
Ibu mengatakan sudah menyiapkan
keuanganya untuk bersalin
12. Pengetahuan
ibu ( tentang kehamilan, persalinan dan
laktasi )
-ibu
mengatakan sudah mengetahui tentang kehamilan, persalinan,dan laktasi
13. Lingkungan
yang berpengaruh ( sekitar rumah dan hewan peliharaan)
-ibu
mengatakan dilingkungan rumah tidak memelihara hewan
14. DATA OBYEKTIF
1.
Pemeriksaan
umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmetis
Status emosional : stabil
Tanda vital sign
Tekanan darah : 110/70 mMHg Nadi : 81x/ menit
Pernapasan : 21x/ menit Suhu
: 36,5 C
Berat badan : 51 kg Tinggi
bdn:156 cm
2.
Pemeriksaan
fisik
Kepala : mesosepal, tidak ada benjolan
Rambut : lurus, hitam, tidak rontok, ddan tidak
ketombe
Muka
: oval, tidak pucat, tidak odem,
tidak ada bekas luka
Mata
: simetris, tidak starbismus,
konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada tanda-tanda infeksi
Hidung : simetri, berlubang, tidak polip
Mulut
: lembab, tidak pecah-pecah, gusi
tidak epulis, tidak ada stomatitis, gigi tidak karies
Telinga
: simetris, pendengaran baik, tidak
ada secret, gendang telinga tidak pecah
Leher
: tidak ada pembesaran kelenjar
parotis, tiroid, limfe dan vena jugularis
Dada
: simetris,tidak ada retraksi
dinding dada,tidak ada wezing
Payudara
: simetris, puting menonjol,
hiperpigmentasi mamae, kolostrum sudah keluar
Abdomen
: tidak ada bekas operasi, tidak ada linea alba, tidak ada striegravidarum
Palpasi leopod
Leopod
I : teraba bulat, tidak melenting,
lunak, berati letak letak di fundus bokong
Lepod
II : bagian kanan teraba
kecil-kecil,tidak ada tahanan berati ekstremitas, bagian kiri teraba memanjang seperti
papan,ada tahanan berarti punggung
Leopod
III : bagian terendah janin teraba
bulat, melenting, keras, tidak bisa digerakan berarti kepala
Leopod
IV :tanggan tidak biusabertemu berarti
kepala belum masuk panggul
Osborn test : -
TFU menurut Mc.Donald : 33 cm
TBJ :
(31-11)x155=3100gr
Auskultasi DJJ : 155x/ menit
Ekstremitas
atas : jumlah jari lengkap,
kuku tidak pucat, tidak terdapat odem, gerakan aktif
Ekstremitas
bawah : jumlah jari lengkap,
kuku tidak pucat, tidak odem, tidak varises, reflek patela positif
Genetalia
luar : bersih, tidak
ada pembesaran kelenjar bartolini, tidak varises,
Anus : bersih, belubang, tidak hemoroid
Pemeriksaan panggul (bila perlu) : -
3.
Pemeriksaan
penunjang
Pemeriksaan laborat
HB : 8 gr/ dl
4.
Data
penunjang
Tidak ada
II.
INTEPRETASI DATA
A.
Diagnosa
kebidanan
Seorang Ny Y umur 21 tahun
G1P0Ab0 Uk 37+1 minggu, janin
tunggal, hidup intrauteri, puki, preskep suspect solusio plasenta.
Ds
:- ibu memgtakan ini kehamilan yang pertama
- ibu mengatakan
baru berumur 21 tahun
- ibu mengatakan
HPM : 6-5-2012
Do : - KU :
baik
-Kesadaran :
composmetis
- vital sign :
TD :11O/70 mMHg S :36,5
C
N :21x/
menit R :81x/menit
- TFU :33
cm
-BB : 55kg
- DJJ : 155x/ menit, ireguler tidak jelas
- Leopod I : teraba bokong
- Leopod II : teraba punggung disebelah kiri
- Leopod III :
teraba
kepala
- Leopod IV : teraba kepala sudah masuk panggul
B.
Masalah
-gangguan rasa nyaman, nyeri
C.
Kebutuhan
Tidak ada
III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH
POTENSIAL
-
Potensial terjadinya fetal distres
-
Potensial terjadinya syok hipovolemik pada
ibu
IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
-
Lakukan pemasangan infus
-
Lakukan rujukan ke dokter SPOG
V. PERENCANAAN
Pukul
: 15.10 WIB
1.
Beritahu ibu tentang hasil
pemeriksaan/kondisi ibu
2.
Ajarkan ibu untuk mengatasi rasa
nyeri
3.
Anjurkan ibu untuk bedrest
4.
Beri KIE tentang tanda bahaya
kehamilan
5.
Beri KIE nutrisi ibu hamil
6.
Pantau adanya tanda dan gejala syok
hipovelemik
7.
Lakukan pemeriksaan DJJ secara
periodik
8. Lakukan
rujukan
9. Dokumentasi
VI. PELAKSANAAN
Pukul
: 15. 15 WIB
1. Memberitahu
ibu hasil pemeriksaan bahawa ada tanda-tanda pelepasan plasenta yang menyebabkan
rasa nyeri pada perut ibu dan akan menyebabkan kematian janin bila tidak segera
dirujuk ke dokter SPOG.
2. Mengajarkan
pada ibu teknik relaksasi dengan cara tarik nafas dalam dari hidung kemudian
dikeluarkan lewat mulut secara perlahan.
3. Menganjurkan
ibu untuk istirahat total ditempat tidur dan mengurangi aktifitas yang berat.
4. Memberitahu
ibu tentang tanda bahaya kehamilan yaitu janin tidak bergerak, keluarnya darah
yang berwarna merah kecoklatan dari jalan lahir, keluarnya air ketuban sebelum
waktunya dari jalan lahir, pusing yang hebat, demam yang tinggi
5. Memberitahu
ibu untuk makan,makanan yang bergizi yang mengadung protein misalnya tahu, tempe, telor dan ikan. Karbohidrat
misalnya nasi, roti, jagung,
singkong dan lain-lain. Vitamin misalnya buah-buahan dan sayuran. Mineral
misalnya susu dan sayuran hijau-hijauan.
Memberitahu ibu agar tidak makan
makanan yang mengganggu kesehatan misalnya bahan makanan yang banyak mengadung
bahan pengawet, minum
minuman berakohol, minum jamu dan merokok.
6. Memantau
adanya tanda syok hipovelemik dengan cara melalukan pemeriksaan tanda-tanda
vital sign,KU.
7. Melakukan
pemeriksaan/pemantauan DJJ secara periodik setiap 15 menit sekali
8. Melakukan
rujukan ke dokter SPOG
9. Melakukan
dokumentasi
VII. EVALUASI
Pukul
: 15.45 WIB
1.
Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang
keadaanya
2.
Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang
teknik relaksasi dan ibu dapat menjelaskan kembali.
3.
Ibu bersedia untuk melakukan istirahat
total ditempat tidur dan mengurangi aktivitas yang berat.
4.
Ibu mengatakan sudah mengetahuitanda
bahaya kehamilan dan ibu sudah dapat menjelaskan kembali
5.
Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang
nutrisi ibu hamil dan ibu dapat menjelaskan kembali
6.
Sudah dilakukan pemantuan pda ibu
7.
Sudah dilakukan pemantauan DJJ
8.
Sudah dilakukan rujukan ke dokter SPOG
9.
Sudah dilakukan dokumentasi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar