Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Abdul Bari. S, dkk, 2002).
1. Pembagian
masa nifas. Nifas dibagi dalam 3 periode:
a. Puerperium dini, yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
b. Puerperium
intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalis yang lamanya 6 – 8
minggu.
c. Remote
puerperium, waktu yang diperlkan
untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan
mempunyai komplikasi.
a. Uterus:
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
1) Bayi
lahir fundus uteri setinggi pusat dengan berat uterus 1000 gr.
2) Akhir kala III
persalinan tinggi fundus uteri teraba 2 jari bawah pusat dengan berat
uterus 750 gr.
3) Satu minggu post partum tinggi fundus uteri teraba
pertengan pusat simpisis dengan berat uterus 500 gr.
4) Dua minggu post partum tinggi fundus uteri tidak
teraba diatas simpisis dengan berat uterus 350 gr.
5) Enam
minggu postpartum fundus uteri bertambah kecil dengan berat uterus 50 g.
b. Lochia:
Lochia adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa
nifas. Macam – macam Lochia:
1) Lochia
rubra (Cruenta ): berisi darah segar dan sisa – sisa selaput ketuban,
sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dam mekonium, selama 2 hari post
partum.
2) Lochia Sanguinolenta : berwarna kuning berisi darah
dan lendir, hari 3 – 7 post partum.
3) Lochia
serosa : berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7 – 14 post
partum.
4c
c. Serviks:
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium
eksterna dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6 minggu
persalinan serviks menutup.
d. Vulva
dan Vagina: Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat
besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah
proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3
minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam
vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia manjadi
lebih menonjol.
e. Perineum:
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang
oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5,
perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap
lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan.
f. Payudara:
Perubahan pada payudara dapat meliputi :
1) Penurunan
kadar progesteron secara tepat dengan peningkatan hormon prolaktin setelah
persalinan.
2) Kolostrum
sudah ada saat persalinan produksi Asi terjadi pada hari ke-2 atau hari ke-3
setelah persalinan.
3) Payudara
menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses laktasi
Buang air kecil sering sulit selama 24 jam
peratam.kemungkinan terdapat spasine sfingter dan edema leher buli-buli sesudah
bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama
persalinan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36
jam sesidah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen yang
bersifat menahan air akan memgalami penurunan yang mencolok. Keadaan ini
menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6
minggu.
Sering kali diperlukan waktu 3 – 4 hari sebelum faal
usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan,
namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari, gerak
tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan
diberikan enema. Rasa sakit didaerah perineum dapat menghalangi keinginan ke
belakang.
Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat
penurunan kadar estrogen, volume darah kembali kepada keadaan tidak hamil.
Jumlah sel darah merah dan hemoglobin kembali normal pada hari ke-5. Meskipun kadar
estrogen mengalami penurunan yang sangat besar selama masa nifas, namun
kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada normal. Plasma darah tidak begitu
mengandung cairan dan dengan demikian daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah
harus dicegah dengan penanganan yang cermat dan penekanan pada ambulasi dini.
a. Kadar
estrogen menurun 10% dalam waktu sekitar 3 jam post partum. Progesteron turun
pada hari ke 3 post partum.
b. Kadar
prolaktin dalam darah berangsur-angsur hilang.
Ambulasi pada umumnya dimulai
4 – 8 jam post partum. Ambulasi
dini sangat membantu untuk mencegah komplikasi dan mempercepat proses involusi.
a. Penurunan
melanin umumnya setelam persalinan menyebabkan berkurangnya hyperpigmentasi
kulit.
b. Perubahan
pembuluh darah yang tampak pada kulit karena kehamilan dan akan menghilang pada
saat estrogen menurun.
1. Perawatan
Pasca Persalinan:
a. Mobilisasi:
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8
jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring-miring kekanan dan kekiri ubtuk
mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke 2 diperbolehkan
duduk, hari ke 3 jalan-jalan, dan hari ke 4 atau 5 sudah diperbolehkan pulang.
Mobilisasi diatas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan,
nifas dan sembuhnya luka-luka.
b. Diet:
Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang
mengandong protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
c. Miksi:
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang wanita
mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan
spasme oleh iritasi m.sphincer ani selama persalinan. Bila kandungan kemih
penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan kateterisasi.
d. Defekasi:
Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit
buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi berak keras dapat diberikan obat
laksans per oral atau per rektal. Jika masih belum bisa dilakukan klisma.
e. Perawatan
payudara (mammae): Perawatan mammae telah dimulai
sejak wanita hamil supaya putting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai
persiapan untuk menyusui bayinya. Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan
dengan cara :
1) Pembalutan mammae sampai
tertekan.
2) Pemberian
obat estrogen untuk supresi LH seperti tablet lynoral dan parlodel.
3) Dianjurkan
sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untuk kesehatan
bayinya.
f. Laktasi:
Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sejak dari kehamilan telah terjadi
perubahan-perubahan pada kelenjarmammae yaitu :
1) Proliferasi
jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli dan jaringan lemak bertambah.
3) Hipervaskularisasi
pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-vena berdilatasi sehingga tampak
jelas.
4) Setelah
persalinan, pengaruh supresi astrogen dan progesteron hilang. Maka timbul
pengaruh hormon laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu.
Disamping itu, pengaruh oksitosin menyebabkan mio-epitel kelenjar susu
berkontraksi sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari
pasca persalinan.
a. Menjadi
orang tua merupakan suatu krisis tersendiri dan harus melewati masa transisi.
Masa transisi pada post partum yang harus diperhatikan perawat adalah:
1) Honeymoon adalah
fase setelah anak lahir dan dan terjadi kontak yang lama antara ibu, ayah,
anak. Kala ini dapat dikatakan sebagai psikis honeymoon yang memerlukan hal-hal
romantis masing-masing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan
yang baru.
2) “ Bonding
Attachment ” atau ikatan kasih. Dimulai sejak dini begitu bayi
dilahirkan. “Bonding” adalah suatu istilah untuk menerangkan hubungan
antara ibu dan anak. Sedangkan “attachment” adalah suatu keterikatan
antara orang tua dan anak. Peran perawat penting sekali untuk memikirkan
bagaimana hal tersebut dapat terlaksana. Partisipasi suami dalam proses
persalinan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ikatan kasih tersebut.
b. Perubahan
psikologis pada klien post partum akan dikuti oleh perubahan psikologis secara
simultan sehingga klien harus beradaptasi secara menyeluruh. Menurut
klasifikasi Rubin terdapat tiga tingkat psikologis klien setelah melahirkan
adalah :
1) Talking
In period: Suatu periode dimana ibu hanya berorientasi pada kebutuhan diri
sendiri, tingkah laku klien pasif dengan berdiam diri, tergantung pada orang
lain. Ibu belum mempunyai inisiatif untuk kontak dengan bayinya. Dia sangat
membutuhkan orang lain untuk membantu, kebutuhannya yang utama adalah istirahat
dan makan. Selain itu ibu mulai menerima pengalamannya dalam melahirkan dan
menyadari bahwa hal tersebut adalah nyata. Periode ini berlangsung 1 - 2 hari.
Menurut Gottible, ibu akan mengalami “proses mengetahui /menemukan “ yang
terdiri dari :
a) Identifikasi:
Ibu mengidentifikasi bagian-bagian dari fisik bagyi, gambaran tubuhnya untuk
menyesuaikan dengan yang diharapkan atau diimpikan.
b) Relating
(menghubungkan): Ibu menggambarkan anaknya mirip dengan anggota keluarga yang
lain, baik dari tingkah lakunya dan karakteristiknya.
c) Menginterpretasikan.
Ibu mengartikan tingkah laku bayi dan kebutuhan yang dirasakan. Pada fase ini
dikenal dengan istilah “ fingertip touch”.
2) Taking
Hold Period: Periode dimana terjadi perpindahan dari keadaan ketergantungan
keadaan mandiri. Perlahan-lahan tingkat energi klien meningkat merasa lebih
nyaman dan mulai berfokus pada bayi yang dilahirkan. Klien lebih mandiri, dan
pada akhirnya mempunyai inisiatif untuk merawat dirinya, mampu untuk mengontrol
fungsi tubuh, fungsi eliminasi dan memperhatikan aktifitas yang dilakukannya
setiap hari. Jika ibu merawat bayinya, maka ia harus memperhatikan kualitas dan
kuantitas dari produksi ASI. Selain itu, ibu seharusnya tidak hanya mengungkapkan
keinginannya saja akan tetapi harus melakukan hal tersebut, misalnya keinginan
berjalan, duduk, bergerak seperti sebelum melahirkan. Disini juga klien sangat
antusias merawat bayinya. Pada fase ini merupakan saat yang tepat untuk
memberikan pendidikan perawatan utnuk dirinya dan bayinya. Pada saat ini
perawat mutlak memberikan semua tindakan keperawatan seperti halnya menghadapi
kesiapan ibu menerima bayi, petunjuk-petunjuk yang harus diikuti tentang
bagaimana cara mengungkapkan dan bagaimana mengaturnya. Perawat harus
berhati-hati dalam memberikan instruksi dan tidak memaksakan kehendaknya
sendiri. Apabila klien merasa tidak mampu berbuat seperti yang diperbuat oleh
perawat, maka perawat harus turun langsung membantu ibu dalam melaksanakan
kegiatan / tugas yang nyata (setelah pemberian demonstrasi yang penting) dan
memeberi pujian untuk setiap tindakan yang tepat. Bila ibu sudah merasa lebih
nyaman, maka ibu sudah masuk dalam tahap ke- 2 “ maternal touch”, yaitu “total
hand contact” dan akhirnya pada tahap ke- 3 yang disebut “ enfolding”. Dan
periode ini berlangsung selama 10 hari.
3) Letting Go Period: Pada fase ini klien sudah mampu merawat dirinya
sendiri dan mulai disibukan oleh tanggung jawabnya sebagai ibu. Secara umum fase ini terjadi ketika ibu kembali ke
rumah. Pada fase ini ibu mengalami perubahan, yaitu:
a) Mengerti
dan menerima bentuk fisik dari bayinya.
b) Melepaskan
peran ibu sebelum memiliki anak,
c) Menjadi
ibu yang merawat anak.
4) Post partum blues: Pada fase ini terjadi perubahan kadar hormon
estrogen dan progesteron yang menurun, selain itu klien tidak siap dengan
tugas-tugas yang harus dihadapinya.Post partum blues
biasanya terjadi 6 minggu setelah melahirkan. Gejala yang tampak adalah
menangis, mudah tersinggung, gangguan nafsu makan, gangguan pola tidur, dan
cemas. Bila keadaan ini berlangsung lebih dari 2 minggu dan klien tidak mampu
menyesuaikan dengan tuntutan tugasnya, maka keadaan ini dapat menjadi serius
yaitu keadaan post partum depresi.
Respon ayah pada masa sesudah klien melahirkan tergantung keterlibatanya
selama proses persalinan, biasanya ayah akan merasa lelah, ingin selalu dekat
dengan isteri dan anaknya, tetepi kadang-kadang terbentur dengan peraturan
rumah sakit.
Kehadiran bayi baru lahir dalam keluarga menimbulkan
perubahan peran dan hubungan dalam keluarga tersebut, misalnya anak yang lebih
besar menjadi kakak, orang tua menjadi kakek / nenek, suami dan isteri harus
saling membagi perhatian. Bila banyak anggoata yang membantu merawat bayi, maka
keadaan tidaklah sesulit dengan tidak ada yang membantu, sementara klien harus
ikut aktif melibatkan diri dalam merawat bayi dan membantu rumah tangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar